Home > Berita > Detail

Sekilas Mengenai Bedah Saraf

Tanggal : 01 April 2013 15:49:09, Dibaca : 1885

Sedangkan saraf erat kaitannya dengan otak dimana keduanya merupakan alat untuk menggerakkan tubuh, merasakan nyeri, pahit,  panas, dingin,  asin, manis. Selain itu juga sebagai pusat pancaindra dan daya pikir. Sementara jiwa adalah perasaan yang timbul karena adanya pengaruh lingkungan, watak dan kepribadian orang yang bersangkutan.

Semua itu dapat kita ketahui dengan jelas dalam buku yang berjudul “Cerita Lucu dari Profesor Bedah Saraf” karya Prof. DR. Dr. Satyanegara, SpBS. Buku setebal 260 halaman tersebut diterbitkan bulan Desember tahun 2011, berisikan pengetahuan tentang kesehatan terutama yang terkait dengan otak. Buku ini bisa didapat di toko buku Gramedia, baik di Bedah saraf hingga kini masih kurang dikenal masyarakat Indonesia, sehingga banyak di antaranya yang tidak mengetahui penyakit apa saja yang ditangani oleh bidang tersebut. Selama ini masyarakat lebih mengenal saraf dari pada bedah saraf. Namun pengertian terhadap arti saraf itu sendiri tampak rancu, sehingga banyak yang menganggap bahwa saraf identik dengan  kejiwaan.

Hal itu terlihat jelas dalam pergaulan sehari-hari dimana kita sering mendengar orang melontarkan kata-kata  “saraf lu” atau “dia lagi saraf kali”, dan sebagainya. Biasanya kata-kata itu terlontar dari mulut seseorang yang sedang kesal, atau marah terhadap orang lain yang melakukan perbuatan yang dinilainya aneh atau tidak waras, sehingga orang tersebut dianggapnya sebagai orang sakit saraf atau sakit jiwa.

Dikalangan dokter sendiri perbedaan tersebut belum sepenuhnya dikuasai, sehingga seringkali keliru menafsirkan arti kata bedah saraf atau pun saraf. Akibatnya tidak jarang terjadi dokter bingung kemana harus merujuk pasiennya, apakah ke bagian saraf, bedah saraf  atau ke bagian jiwa .

Dalam buku ini penulis yang memang seorang pakar bedah saraf lebih memperjelas perbedaan itu dengan memberikan contoh pada berbagai kasus penyakit  yang pernah ditanganinya, baik itu yang terkait dengan bidang bedah saraf, saraf ataupun kejiwaan.

Adapun penyakit yang terkait dengan bedah saraf antara lain ialah cedera kepala dan gegar otak, tumor otak, stroke, hidrosefalus, peradangan otak, vertigo, pembekuan darah di otak, nyeri pinggang (lumbago), ayan, dan lain sebagainya. Sedangkan yang terpaut dengan bidang kejiwaan, antara lain ialah violent behaviour (watak yang ganas), superaktif, keterbelakangan mental.

Satyanegara sebagai seorang dokter ahli bedah saraf Indonesia bertaraf internasional, memiliki segudang pengalaman dibidangnya. Banyak kisah menarik, unik bahkan menggelikan dialami, terutama saat menangani berbagai kasus penyakit yang terkait dengan otak, kepala dan saraf.

Semua ilmu, pengetahuan dan pengalaman dibidangnya itu dituangkan dalam buku “Cerita Lucu” ini. Penulisannya diawali dengan hal ikhwal bedah saraf, sejarah, serta perkembangannya, dilengkapi dengan ruang lingkup penyakit yang terkait dengan bidang yang masih muda itu.

Buku tersebut diterbitkan sebagai wujud kepeduliannya terhadap kesehatan masyarakat. Harapan penulis buku ini nantinya dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dibidang kesehatan terutama  tentang penyakit yang terpaut dengan bidang bedah saraf.
Melalui buku ini mereka dapat mengetahui secara gamblang mengenai stroke, hidrosefalus,  ayan, tentang hubungan otak dengan sakit jiwa, kenapa orang dapat pikun, apakah operasi otak itu aman atau tidak, dan sebagainya.

Dokter yang ramah dan murah senyum ini sangat peduli pula terhadap perkembangan bedah saraf di Indonesia. Berbagai upaya selalu dilakukan untuk mengembangkan ilmu tersebut di negeri kita. Salah satu diantaranya  ialah dengan menerbitkan buku ilmiah bedah saraf yang hingga kini sudah mencapai empat episode. Tujuannya ialah untuk membantu mahasiswa atau dokter agar dapat lebih mudah dan lancar dalam mempelajari bedah saraf.

Episode pertama diterbitkan tahun 1976, kedua tahun 1987, ketiga tahun 1998 dan yang keempat tahun 2010.  Setiap episode isinya  mengalami perubahan dan perbaikan dari episode yang sebelumnya, sesuai dengan kemajuan atau perkembangan  ilmu bedah saraf saat itu di luar negeri.

Tahun 2008, dia menerbitkan buku biografi berjudul Ayat-Ayat Filosofi Satyanegara yang mengisahkan masa kecilnya sampai mendapat gelar S1-S3 di Tokyo Jepang. Sedangkan buku Cerita Lucu ini adalah karyanya yang ke-8,  namun kali ini disajikan khusus bagi masyarakat awam. Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan menggunakan bahasa ringan serta sederhana, agar mudah dicerna dan dipahami pembaca.

Penulis juga mengharapkan dengan adanya buku ini kesalah­pahaman tentang perbedaan arti saraf, bedah saraf, dan jiwa, dapat dihindarkan, sehingga nantinya dapat mencapai sasaran secara tepat. *SUBARDJO