Home > Berita > Detail

Minimnya jumlah dokter bedah saraf dinilai sebagai faktor yang menyebabkan banyaknya warga Indonesia memilih berobat ke luar negeri.

Tanggal : 25 Oktober 2011 10:28:59, Dibaca : 1468

Terbukti hingga saat ini jumlah dokter ahli bedah saraf hanya berjumlah sekitar 200 orang, hal ini tak sebanding dengan banyaknya jumlah penduduk Indonesia,

Ketua Tim Bedah Syaraf Rumah Sakit Siloam Lippo Village, Karawaci, Prof. Dr dr Eka J. Wahjoepramono, MD, PhD mengungkapkan hal ini dalam acara World Federation of Neurosurgical Society (WFNS) and Educational Course, Jumat (25/1).

Menurut Prof Eka, jumlah dokter spesialis bedah saraf di Indonesia sekitar 200 orang. Satu dokter bedah saraf menangani sekitar satu juta jiwa. "Ini sangat minim dibandingkan dengan di negara maju, yang rasio dokter bedah saraf dengan penduduk sudah satu berbanding 200.000 jiwa," ungkapnya

Lebih jauh Prof Eka menjelaskan, saat ini kasus-kasus tumor pada otak dan kelainan pada otak atau saraf semakin banyak ditemukan. Itu terjadi seiring dengan kemajuan teknologi skrining dan deteksi dengan hadirnya berbagai peralatan pemindai seperti CT SCAN (Computerized Axial Tomografi), dan pencitraan resonansi magnetik alias Magnetic Resonance Imaging ( MRI) yang mampu memberikan citra otak dan tulang tengkorak.

"Penemuan kasus-kasus tumor dan kelainan di otak semakin membaik dan membutuhkan penanganan, terutama pembedahan," Jelas Eka.

Seperti dicontohkannya, di RS Siloam, misalnya, ketika dirinya berpraktik 16 tahun lalu biasanya hanya menangani 30 kasus tumor dan kelainan pada otak dan saraf per tahun yang membutuhkan operasi. Namun belakangan ini, rumah sakit itu menangani sekitar 1. 500 kasus per tahun.

Sekali pun jumlahnya terbatas, menurut Eka, kualitas dokter bedah saraf Indonesia tidak kalah dengan negara lain, bahkan negara maju. Kalau pun kita rujuk pasien ke luar negeri, biasanya karena keterbatasan alat.

Terbukti, para dokter muda dari berbagai negara berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk belajar mengenai ilmu bedah saraf melalui Workshop Educational Center.

Acara World Training and Education Center yang berlangsung mulai 24 hingga 27 Januari 2013 ini dihadiri oleh sekira 100 peserta dari berbagai negara seperti China, Singapura, Vietnam, Jepang, Amerika, Korea, dan negara lainnya.

Dalam pelatihan ini, sambung Prof Eka, para dokter muda akan diberi workshop mengenai beberapa jenis bedah saraf, seperti endovaskular, peripheral nerve, dan spine workshop.