Home > Berita > Detail

Ani Yudhoyono Lecehkan Dokter Indonesia

Tanggal : 28 Mei 2013 15:37:32, Dibaca : 2162

Kontras dengan suasana di Pittsburgh, sejumlah orang tua calon mahasiswa di seluruh pelosok Indonesia sedang memutar otak mempersiapkan biaya masuk perguruan tinggi.

Tentunya yang paling tersiksa adalah orang tua yang anaknya berambisi ingin masuk fakultas kedokteran. Betapa tidak, calon mahasiswa fakultas kedokteran di perguruan tinggi negeri di Indonesia harus menyiapkan dana ratusan juta rupiah jika ingin menjadi dokter.

Biaya kuliah kedokteran di PTN tetap selangit kendati UU Badan Hukum Pendidikan -yang membuat PTN kemaruk- telah dicabut. Sebagai contoh, Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, dana sumbangan pengembangan menejemen pendidikan (SPMP) untuk jalur mandiri Fakultas Kedokteran mencapai Rp 125 juta.

Pengamat pendidikan, Darmaningtyas, sempat menegaskan, bahwa fakultas kedokteran seharusnya menjadi fakultas termurah di Indonesia. Pertimbangannya, demi kemanusiaan dan pelayanan profesi dokter itu sendiri. Kedokteran harusnya untuk kemanusiaan.

Ironisnya, suka ataupun tidak, tingginya biaya kuliah di fakultas kedokteran Indonesia itu tidak diikuti pengakuan dari warga Indonesia sendiri terhadap dokter-dokter alumnus dalam negeri. Sebagian besar kaum berada di Indonesia, tetap mengganggap dokter-dokter alumni Indonesia kurang kualified. Bahkan termasuk Ani Yudhoyono sendiri 'kurang' yakin dengan kualitas dokter Indonesia.

Khusus bedah syaraf, Indonesia memiliki Prof dr Eka Julianta Wahyoepramono. Sebagai ahli bedah syaraf, nama dr Eka Julianta tak diragukan lagi. Dr Eka menjadi visiting professor di Harvard University Medical School.

Dr Eka tercatat sebagai dokter pertama dan satu-satunya di Asia yang berhasil membedah batang otak pasien. Kesuksesan pada 20 Februari 2001 itu telah melambungkan nama dr Eka di kancah internasional, dan disegani dokter-dokter bedah saraf dunia. Atas prestasi ini, Dr Eka mendapatkan rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Secara khusus, Pitan Daslani menulis otobiografi dr Eka dalam buku bertajuk "Tinta Emas di Kanvas Dunia".

Sampai di sini, jika bicara nasionalisme, tentunya Ani Yudhoyono tidak bisa dianggap sebagai pengamal nasionalisme. Ani Yudhoyono lebih percaya dengan fasilitas dan dokter Amerika Serikat. Sebagai perbandingan, mantan Presiden Soeharto sejak lengser pada 1998, Soeharto tidak pernah berobat ke luar negeri yang katanya canggih, akurat dan terpercaya.

Tercatat, Soeharto 14 kali masuk rumah sakit sejak lengser. Soeharto selalu memilih berobat di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP), rumah sakit yang resmikan sendiri oleh Soeharto pada 1972. Memang, banyak yang menyebut Soeharto memilih rumah sakit dalam negeri terkait skenario menghindari dari proses hukum kasus korupsi. Alasannya, jika dirawat di luar negeri, media internasional pasti gencar memberitakan kondisi kesehatan Soeharto sesungguhnya. Entahlah!

Yang pasti, Ani Yudhoyono dirawat di Amerika Serikat dengan alasan dokter ahli dan peralatan yang dibutuhkan hanya tersedia di Allegheney General Hospital, Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Juru bicara kepresidenan, Julian Aldrin Pasha sempat menjelaskan, keinginan melakukan tindakan medis ke Amerika Serikat bukan datang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono maupun keluarga. Alasan pengobatan sakit saraf pada leher Ibu Ani dilakukan di Amerika, sesuai rekomendasi dokter kepresidenan Brigjen TNI Aris Wibudi.

Apapun alasannya, toh Ani Yudhoyono tetap akan dioperasi di Allegheney General Hospital. Dan publik pun boleh bertanya, mengapa Ani Yudhoyono tidak yakin dengan kemampuan dokter dan fasilitas rumah sakit di Indonesia?

Jika mempertimbangkan pencitraan -apalagi citra SBY terus merosot-, seharusnya Ani Yudhoyono dirawat di dalam negeri demi nasionalisme. Sebab, secara sederhana, akan muncul persepsi bahwa Ani Yudhoyono saat ini menderita sakit yang 'gawat', sehingga tidak bisa ditangani dokter atau rumah sakit dalam negeri. Kegawatan itu juga bisa terindikasi dari mendadaknya rencana operasi Ani Yudhoyono.

Di sisi lain, secara politis, muncul persepsi bahwa Ani Yudhoyono harus dirawat di Amerika Serikat untuk 'mengungsikan' Edhi Baskoro Yudhoyono -yang ikut menemani Ani Yudhoyono- dari pertikaian internal Partai Demokrat. Sinyal pertikaian itu muncul dari suasana silaturahmi pendiri dan deklarator Partai Demokrat belum lama ini.

Bahkan muncul isu liar, SBY yang akan menjemput Ani Yudhoyono di Amerika Serikat pasca operasi, sebenarnya untuk menyambut rangkaian perayaan HUT ke 236 kemerdekaan 'negara kedua' SBY, Amerika Serikat, yang jatuh pada 4 Juli 2012. Atau jangan-jangan SBY-Ani Yudhoyono datang ke Amerika Serikat terkait isu pencalonan Ani Yudhoyono dalam Pilpres 2014. Presiden SBY memang akan menghadiri KTT G-20 di Los Cabos.

Kehadiran SBY pada puncak HUT Kemerdekaan Amerika Serikat memang akan menjadi satu hal yang merugikan pencitraan SBY, terutama di kalangan umat Islam. Apalagi saat ini Presiden AS, Barack Obama, semakin dibenci umat Islam. Belakangan, Obama jelas-jelas menyatakan mendukung Israel, Obama juga mendukung perkawinan sejenis di AS.

Tidak jelas memang apa yang ada di benak SBY saat ini. Apakah karena SBY memang lebih percaya kepada Amerika Serikat dalam hal politis hingga medis? Jangan-jangan, kutil SBY di dahi sebelah kanan itupun ditebas dan congkel di Amerika Serikat?